Bandung, 18 September 2025 Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi sukses menyelenggarakan sebuah studium generale yang inspiratif dengan tema “Dampak penggunaan Kecerdasan Buatan (AI).” Acara ini merupakan komitmen prodi untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang teknologi masa depan. Dihadiri oleh ratusan mahasiswa prodi perpustakaan dan sains informasi dan akademisi, studium generale ini secara khusus mengundang Dr. Milan Regec dari Comenius University, Bratislava, Slovakia, sebagai narasumber utama.
Suasana antusiasme memenuhi ruangan Bookstore lantai 3, Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan, ditandai dengan tingginya minat peserta terhadap topik yang relevan ini. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ibu Suci Yanti Ramadhan, M.A selaku pembawa acara, yang dengan ramah memperkenalkan Dr. Milan sebagai narasumber utama.
Dalam sesinya, Dr. Milan memulai pembahasan yang mendasar tentang sumber pengetahuan. Menurutnya, pintu pengetahuan adalah tulisan, atau buku. “Manusia bisa mengetahui sesuatu karena ada seseorang yang menuliskannya,” jelas beliau. Poin ini menjadi landasan penting untuk membandingkan cara belajar tradisional dengan metode modern.
Dr. Milan mengkritisi fenomena “Revolusi Media” di mana orang hanya menonton untuk belajar. Hal ini dinilai kurang efektif karena tidak mendorong proses berpikir mendalam. Beliau menegaskan bahwa kita perlu kembali pada kebiasaan literasi yang lebih fundamental, yaitu belajar dari buku dan tulisan, yang melatih otak untuk menganalisis dan mengaplikasikan pengetahuan. Di Tengah banyaknya alat AI untuk membantu belajar, Dr. Milan mendorong audiens untuk merenungkan sebuah pertanyaan filosofi yang mendalam “Apa yang sebenarnya sedang kita hilangkan?” ia menambahkan, kita kehilangan kemampuan untuk berfikir dan mengingat, karena AI telah melakukan banyak hal untuk kita.
Beranjak dari filosofi, beliau memberikan analogi yang relevan tentang perubahan peran manusia dengan penemuan kalkulator. Di masa lalu, orang harus pandai berhitung cepat di kepala, karena itu adalah keahlian yang sangat dibutuhkan. Namun, setelah kalkulator diciptakan, kemampuan tersebut tidak lagi menjadi yang utama, menurutnya, hal yang sama sedang terjadi pada AI. Manusia tidak lagi harus melakukan pekerjaan komputasi atau analitik yang rumit. Sebaliknya, peran kita bergeser menjadi pemikir strategis yang memanfaatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan kreativitas dan efisiensi.
Dalam sesi yang paling penting, Dr. Milan mengungkapkan data menarik bahwa 30% orang di dunia telah menggunakan AI untuk membuat keputusan penting. Namun beliau mengingatkan “AI tidak selalu benar dan bisa membuat kesalahan.” Beliau menegaskan bahwa pada dasarnya, AI hanyalah sebuah alat yang terlihat cerdas karena memiliki akses ke data yang telah ditulis oleh manusia. AI bisa memproses informasi dengan akurat, tapi tidak benar-benar menjadi kreatif seperti manusia.

Sebagai contoh, beliau menjelaskan secara terperinci bagaimana AI membuat gambar. Ia memaparkan bahwa AI tidak menggambar seperti manusia. Sebaliknya, ia bekerja melalui algoritma yang belajar dari jutaan data, kemudian menciptakan gambar baru berdasarkan pemahaman pola dari data tersebut.
Pemaparan ini diperkuat dengan kilas balik sejarah AI, dari program chatbot awal seperti ELIZA hingga model generatif modern yang kini banyak digunakan oleh masyarakat seperti GPT dan DALL-E. Dr. Milan juga memberikan gambaran yang jelas tentang cara kerja di balik kecerdasan buatan.
Pada proses pemaparan mengenai topik yang menarik ini, sesi tanya jawab yang interaktif ditunjukkan dengan rasa ingin tahu peserta yang tinggi terhadap dampak AI, baik dari sisi positif maupun tantangan yang akan dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan seputar etika, keamanan, dan masa depan karier menjadi topik hangat yang didiskusikan.
Acara Studium Generale ini ditutup dengan pesan penting dari Dr. Regec: “Mempelajari AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.” Beliau mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga menjadi pihak yang kritis, bijak, dan adaptif agar dapat memanfaatkan potensi AI secara optimal untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Sebagai penutup rangkaian acara, prodi Perpustakaan dan Sains Informasi memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dr. Milan Regec. Ibu Dr. Riche Cynthia J., M.Si. selaku Kepala Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia, dan Ibu Dr. Hana Silvana, M.Si., secara simbolis menyerahkan souvenir sebagai bentuk penghargaan atas wawasan dan ilmu yang telah dibagikan. Momen ini dilanjutkan dengan sesi dokumentasi, di mana seluruh audiens, Dr. Milan beserta jajaran para dosen dari prodi Perpustakaan dan Sains Informasi berkesempatan untuk foto bersama.
Kegiatan studium generale ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui penguatan literasi digital dan pemahaman tentang kecerdasan buatan, acara ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan menyediakan akses pendidikan tinggi yang relevan dengan perkembangan teknologi global. Diskusi etika dan keamanan penggunaan AI turut memperkuat SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) dengan menekankan pentingnya tata kelola teknologi yang bertanggung jawab. Selain itu, kolaborasi internasional antara Universitas Pendidikan Indonesia dan Comenius University Bratislava dalam program student mobility mencerminkan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang membuka peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara. Dengan demikian, acara ini tidak hanya memberikan manfaat akademik, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi nyata prodi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan (Millati Azka/Red).

