
UPI Bandung, 9 Maret 2026 – Program studi Perpustakaan dan Sains Informasi menyelenggarakan praktisi mengajar bertajuk “Inovasi Layanan Informasi untuk Anak Berkebutuhan Khusus dalam Konteks Pendidikan Inklusif” secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ibu Nita Nitiya Intan Tanbrin, dosen dari Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus pendiri dan konsultan di GWYN Learning Center.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi, Dr. Hj. Linda Setiawati, M.Pd., menekankan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara tanpa terkecuali, termasuk bagi individu dengan kebutuhan khusus. Beliau juga menekankan pentingnya peran berbagai pihak, termasuk konsultan dan praktisi pendidikan, dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif. Sementara itu, Dr. Hana Silvana, M.Si., selaku dosen pengampu mata kuliah Sumber dan Layanan Informasi, menyampaikan bahwa mahasiswa di bidang perpustakaan dan informasi perlu memahami pentingnya pengembangan layanan informasi yang inklusif. Menurutnya, layanan informasi perlu dirancang secara inovatif agar dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk individu dengan kebutuhan khusus.

Dalam sesi pemaparan materi, narasumber mengajak peserta untuk memahami berbagai tantangan yang dihadapi individu dengan kebutuhan khusus dalam mengakses informasi dan pendidikan. Melalui berbagai simulasi sederhana, peserta diajak merasakan keterbatasan yang mungkin dialami oleh individu dengan hambatan penglihatan, pendengaran, serta kesulitan membaca. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan empati dan kesadaran bahwa akses terhadap informasi tidak selalu mudah bagi semua orang. Narasumber juga menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus memerlukan dukungan dan layanan khusus untuk mengakses pendidikan dan informasi secara optimal. Lebih lanjut dijelaskan bahwa secara global sekitar 15% populasi dunia hidup dengan disabilitas. Oleh karena itu, penyediaan layanan yang aksesibel dan inklusif menjadi hal yang penting dalam berbagai sektor, termasuk di perpustakaan dan lembaga informasi lainnya. Sesi ini menyoroti bahwa inklusi bukan sekadar memberikan belas kasihan dan rasa iba, melainkan memenuhi hak aksesibilitas yang setara bagi setiap orang.
Dalam sesi diskusi melalui media Padlet, mahasiswa memberikan berbagai masukan konstruktif terhadap fasilitas Perpustakaan UPI saat ini. Beberapa poin yang menjadi sorotan antara lain perlunya perbaikan pada kecuraman ramp gedung, penambahan titik stop kontak, serta pelatihan bahasa isyarat dasar bagi staf pustakawan.
“Inklusi itu bukan tentang mengubah anak agar cocok dengan sistem, tapi mengubah sistem agar setiap anak bisa berpartisipasi tanpa terkecuali,” tegas narasumber dalam sesi tersebut.
Sebagai langkah konkret, diharapkan adanya kolaborasi lintas program studi (seperti PKH dan Perinfo) untuk mengkaji ulang aksesibilitas sistem informasi di lingkungan kampus. Langkah kecil seperti menginstal pembaca layar gratis (NVDA) pada komputer publik dan memindahkan koleksi buku populer ke rak yang lebih rendah dapat memberikan dampak besar bagi kemandirian penyandang disabilitas. Kegiatan ini ditutup dengan refleksi bersama bahwa aksesibilitas yang baik tidak hanya menguntungkan penyandang disabilitas, tetapi juga mempermudah akses bagi seluruh civitas akademika, termasuk lansia dan masyarakat umum. (Chisita & Raisyah/Red)

