Bandung, 7 Oktober 2025 – Sebagai implementasi nyata dari mata kuliah Preservasi Bahan Pustaka, mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), melaksanakan outing akademik sekaligus praktikum di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) Salemba. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi mahasiswa karena untuk pertama kalinya teori yang dipelajari di kelas dapat dipahami langsung melalui observasi dan praktik di institusi pustaka tertinggi di Indonesia.
Kegiatan dimulai pada Selasa dini hari, 7 Oktober 2025. Sejak pukul 04.00 WIB, seluruh mahasiswa, dosen, serta panitia berkumpul di ATM Center Museum Pendidikan Nasional (Mupenas) UPI. Meskipun suasana masih gelap, antusiasme mahasiswa terlihat jelas. Setelah panitia memastikan kehadiran lengkap, rombongan berangkat sekitar pukul 04.30 WIB menuju Jakarta. Perjalanan kurang lebih empat jam terasa ringan karena diwarnai obrolan hangat dan rasa penasaran mahasiswa terhadap pengalaman baru yang menanti.
Tiba di Perpusnas RI Salemba sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan disambut hangat oleh pustakawan. Sesi awal diisi dengan penyerahan plakat sebagai tanda terima kasih serta dokumentasi bersama. Agar kegiatan lebih efektif, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan 17–18 orang, lalu diatur sistem rotasi mengunjungi setiap lantai yang menjadi fokus praktikum.

Suasana dan Kegiatan di Setiap Lantai
Lantai Dua – Restorasi Karya Rekam
Di lantai ini mahasiswa banyak mendapatkan penjelasan sekaligus diperlihatkan contoh-contoh nyata koleksi yang mengalami kerusakan. Pustakawan menunjukkan CD yang permukaannya tergores, kaset yang pita rekamannya kusut, hingga piringan hitam yang retak. Setiap kerusakan dijelaskan penyebabnya, misalnya akibat kelembapan yang tidak terkontrol, suhu penyimpanan yang tidak stabil, atau kesalahan penggunaan. Mahasiswa juga dikenalkan dengan peralatan khusus, seperti mesin vakum, alat ultrasonik, dan JFJ cleaner untuk memperbaiki goresan pada CD. Bagian ini memberi gambaran utuh bahwa preservasi karya rekam membutuhkan keahlian teknis dan kesadaran akan faktor lingkungan.
Lantai Tiga – Konservasi Karya Cetak dan Tulis
Berlanjut ke lantai tiga, mahasiswa diajak memasuki ruang konservasi karya cetak dan tulis. Di sini tidak ada praktik langsung, melainkan penjelasan rinci dari pustakawan mengenai tahapan konservasi: fumigasi untuk membasmi jamur dan hama, bleaching untuk memperbaiki kertas yang sudah menguning, serta deasidifikasi untuk menetralkan kadar asam agar kertas tidak cepat rapuh. Mahasiswa juga ditunjukkan contoh hasil laminasi dan enkapsulasi pada koleksi, termasuk naskah kuno yang bernilai historis tinggi. Melalui penjelasan ini, mahasiswa menyadari bahwa setiap koleksi memiliki kebutuhan khusus dalam penanganannya.
Lantai Empat – Penjilidan Koleksi
Lantai ini menjadi salah satu bagian paling menarik karena mahasiswa berkesempatan melakukan praktik langsung. Pustakawan memperlihatkan teknik penjilidan dengan lem maupun dengan benang. Setelah mendapat arahan, mahasiswa mencoba memperbaiki buku yang rusak ringan, misalnya dengan memperkuat kembali jilidannya. Aktivitas sederhana ini memberikan pengalaman nyata, membuat mahasiswa merasakan bahwa upaya menjaga koleksi tidak hanya teori, tetapi juga keterampilan manual yang membutuhkan ketelitian.
Lantai Lima – Digitalisasi Koleksi Audiovisual
Di lantai lima, mahasiswa diperlihatkan proses alih media koleksi audiovisual ke dalam format digital. Pustakawan mendemonstrasikan bagaimana rekaman analog, seperti kaset atau piringan hitam, diputar menggunakan perangkat khusus lalu direkam ulang ke komputer dengan perangkat lunak audio profesional. Hasil rekaman kemudian disimpan dalam format digital, seperti WAV atau MP3, sehingga dapat diakses lebih mudah sekaligus terjaga kualitasnya. Selain itu mahasiswa tidak hanya mendapat penjelasan saja, tetapi juga berkesempatan langsung mempraktikkan proses alih media koleksi audiovisual. Tahapan dimulai dengan memasukkan kaset ke dalam tape recorder yang sudah terhubung dengan komputer. Selanjutnya, pustakawan memperlihatkan cara menggunakan aplikasi perekam audio untuk menangkap suara dari kaset tersebut. Proses ini menghasilkan file digital yang kemudian disimpan dalam format MP3. Praktik ini memberi pengalaman nyata bagi mahasiswa bahwa digitalisasi koleksi bukan hanya aktivitas teknis, melainkan bagian penting dari upaya pelestarian, karena rekaman analog memiliki keterbatasan usia pakai dan rentan rusak. Dengan mengalihkannya ke bentuk digital, konten yang ada dapat terus diakses oleh generasi berikutnya tanpa kehilangan kualitas aslinya.
Lantai Enam – Reproduksi Film
Di ruang reproduksi film, mahasiswa dikenalkan pada proses alih media dari negatif film menjadi format digital. Pustakawan menunjukkan peralatan yang digunakan, seperti kamera khusus, meja cahaya, dan perangkat lunak pengolah gambar. Mahasiswa mengamati bagaimana klise negatif difoto ulang lalu diproses hingga menjadi citra digital yang jelas. Meski tidak ada praktik langsung, demonstrasi ini menegaskan bahwa koleksi audio-visual maupun film juga membutuhkan perhatian khusus agar tidak hilang dimakan waktu.
Usai kegiatan di Perpusnas, rombongan melanjutkan kunjungan bebas ke Museum Nasional Indonesia. Mahasiswa menikmati waktu luang sebelum pulang ke Bandung dengan berkeliling melihat koleksi arkeologi, etnografi, dan peninggalan budaya dari berbagai daerah di Nusantara.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman yang tak tergantikan. Melihat langsung koleksi rusak, mendengar penjelasan mendetail, mencoba praktik penjilidan, hingga menyaksikan proses digitalisasi membuat mereka memahami luasnya cakupan profesi pustakawan. Seorang mahasiswa menuturkan bahwa kegiatan ini membuka wawasan bahwa pustakawan memiliki peran penting tidak hanya dalam layanan, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan dan budaya bangsa. Selain itu, perjalanan dan rotasi kelompok juga mempererat kebersamaan antarmahasiswa angkatan 2023.
Kegiatan outing akademik dan praktikum di Perpustakaan Nasional RI ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis pengalaman langsung yang meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang preservasi bahan pustaka, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dengan menanamkan kesadaran akan pentingnya pelestarian arsip dan warisan intelektual bangsa sebagai bagian dari identitas budaya, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga nasional dalam mewujudkan pendidikan berkualitas dan pelestarian pengetahuan untuk generasi mendatang.
Sekitar pukul 17.00 WIB, rombongan meninggalkan Jakarta dan tiba kembali di Bandung pada malam harinya dengan selamat. Praktikum ini menjadi pengalaman monumental yang tidak hanya memperkaya pengetahuan akademik, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap profesi kepustakawanan. Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UPI melalui kegiatan ini menunjukkan komitmen untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan nyata dan pemahaman mendalam tentang preservasi. Kolaborasi dengan Perpusnas RI juga memperlihatkan sinergi penting antara lembaga pendidikan tinggi dan lembaga nasional dalam menjaga warisan intelektual bangsa.

